#SaveRohingya

0,,18453969_303,00

“Bangsa Tanpa ‘Tanah Halaman”

Muslim Rohingya adalah minoritas terbesar di provinsi Arakan, Burma. Sejarah Muslim di Arakan mulai pada abad ketujuh ketika pedagang Muslim dari Arab menetap di sana. Muslim Rohingya sendiri merupakan keturunan Bengal yang sudah tinggal di Arakan sejak berabad lalu. Hampir mirip suku Tionghoa/India/Arab di Indonesia, barangkali, atau Pattani Thailand. PBB memperkirakan ada sekitar 800 ribu Muslim Rohingya di Burma.

Menggunakan aturan yang dibuat pada 1982, Burma tidak mengakui Rohingya sebagai warga Burma, termasuk yang sudah menetap di Burma sejak masa pendudukan Inggris dulu. Gelombang kekerasan pada 1991, sebagian didukung Negara, memaksa 250 ribu Muslim Rohingya menyeberang ke Bangladesh, hidup dalam kamp minim fasilitas.

Nozir Hossain, 70, petani asal Maung Daw, tinggal di kamp ini sejak 2001. Pada Guardian dia berkisah bagaimana dia terusir dari rumahnya. “Warga Mogh [Budha] mengepung desa kami subuh itu. Nasaka [tentara perbatasan Burma] ada di belakang mereka. Mereka membakar rumah. Siapapun yang menghalangi mereka, mereka tebas, tusuk dan tembak. Dua anak lelaki saya mereka bunuh di depan mata saya. Ketika saya melindungi kepala dengan tangan, kapak nyaris memotong tangan saya. Saya terjatuh dan tergolek di atas genangan darah anak saya. Para pembunuh itu meninggalkan saya untuk mati kehabisan darah.”

Walaupun trauma itu demikian membekas, Nozir berharap bisa kembali ke tanahnya. “Tidak ada apa-apa bagi kami di sini,”katanya. Dia berharap pemerintah Burma akan adil dan memberikan kembali haknya. Saat dia pulang ke rumahnya pada 2005, dia dapati Mogh mendiami tanahnya. Karena itulah dia terpaksa kembali ke kamp.

0,,18454053_303,00

Nozir menegaskan dua pemerintahan (Bangladesh dan Burma) ini salah menilai posisi Rohingya. “Burma mengatakan saya orang Bangladesh, padahal Arakan satu-satunya rumah saya. Bapak dan Kakek saya lahir di Arakan. Bangladesh mengatakan kami pendatang illegal. Padahal kami tidak datang ke Bangladesh mencari kerja. Kami ke sini menyelamatkan diri.”

0,,18442909_302,00

Presiden Burma, Thein Sein, mengatakan ketegangan antar suku di Arakan bisa diselesaikan jika PBB mau menampung Muslim Rohingya atau Negara ketiga menerima mereka. Kepala UNHCR, Antonio Guterres menolak beban itu.
(Maimon Herawati: sumber Guardian, Independent, BBC, Al Jazeera)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>